. My Home: Kejujuran

Minggu, 20 Maret 2011

Kejujuran

Kejujuran seseorang
Diukur dari perbuatannya
Bukan profesinya

Jika diibaratkan sebagai barang, jujur itu teramat mahal harganya. Di negeri yang kita tempati kini, rasanya teramat sulit kita menemukan jiwa-jiwa yang jujur. Banyak yang mempercayai doktrin salah, yen ora edan ora keduman (Yang tidak gila tidak kebagian). Orang tak merasa punya dosa, entah kepada Tuhannya, begitu juga dengan sesamanya ketika melakukan kezholiman (mengambil hak orang lain). Hasilnya, ketika ketidak jujuran melekat, akan mudah dan menganggap remeh tindakan-tindakan yang sejatinya bertentangan dengan nurani. Korupsi, adalah bentuk nyatanya. Persoalan ini karena ketiadaan sifar jujur, yang ada justru nafsu dan keserakahan.

Mereka yang memasuki sektor kerja profesional swasta maupun pegawai pemerintahan Ketika ketidakjujuran merajalela yang berakibat pada penzholiman orang lain maupun negara, bukankah ini merupakan tamparan bagai wajah kita. Jika etos kerja seorang didasarkan kepada pemahaman agama yang baik, tentu saja juga akan berpengaruh terhadap profesionalitas, tidak ada toleransi yang terlalu lunak dengan yang namanya ketidakjujuran. Sayang, persoalan ini sering berlalu begitu saja.

Mungkin ada yang menganggap aneh ketika hari ini ada orang yang masih punya sedikit kapedulian untuk bersikap jujur. “Mas, nyari rejeki yang haram saja susah, apalagi yang halal”. Begitu sebagian orang bilang. Entah, saya sering mengelus dada mendengar kata-kata ini, ingin marah. Tetapi saya urungkan ketika kembali bertanya juga pada diri sendiri, ketika saya marah kepada orang yang tidak jujur, sudahkah saya sendiri memiliki sifat jujur, atau jangan-jangan sering terpeleset juga untuk melakukan kebohongan.

Kadang, saya iseng untuk melakukan “riset” sederhana seputar kejujuran.

Dalam kehidupan keseharian,

saya suka pada orang-orang yang mempunyai sifat yang jujur.

Riset pertama pada seorang penjual soto ayam langganan. Harga satu mangkok Rp 3,500, ditambah kerupuk atau gorengan, jadi habis Rp 4. 000 atau Rp 4. 500. Nah, saya biasanya langsung menaruh uang di meja Rp 5. 000 lantas bilang tambahan makanan selain soto tadi kepada ibu pemilik warung sambil sengaja ngeloyor pergi. Sesekali sisa Rp 1.000 atau Rp 500. Besoknya, kalau saya pergi ke penjual soto itu. Si Ibu pasti jujur kalau kemarin saya masih ninggal Rp 1.000 atau Rp 500.

Riset kedua pada seorang penjual pulsa. Saat membeli pulsa, saya memberikan sejumlah uang lantas ngeloyor pergi juga padahal memang ada sisa. Saat saya pergi begitu saja, dikejar oleh sang penjual pulsa tadi untuk mengembalikan sisa uang saya. Ah, ini dia penjual yang jujur, batin saya. Kalau tak jujur, tak mungkin saya dikejar. Sampai saat ini, saya langganan beli pulsa ke penjual voucer itu. Bukan apa-apa, karena saya suka saja dengan kejujurannya. Ini beda dengan salah seorang penjual nasi kuning di jalan menuju kost, ketika saya ada sisa dan langsung pergi, dia cuek saja.

Di riset lainnya, saya sangat tidak respek lagi dengan salah satu penjual nasi goreng yang sering saya kunjungi. Setelah memakan nasi goreng, saya minum air putih yang disediakan oleh pemilik warung nasi goreng itu. Alangkah terkejutnya karena dalam gelas air putih ada jentik nyamuknya yang bergerak-gerak, semacam kutu air. Jelas, air yang disuguhkan air mentah. Setelah kejadian itu, saya malas membeli ke tukang nasi goreng yang sekian lama menjadi langganan saya. Ah, kejujuran memang mahal. Penduduk negeri ini, termasuk saya memang harus banyak belajar terhadap kejujuran.

Readmore...

Tidak ada komentar: