. My Home: Surat dari seorang teman

Minggu, 16 Januari 2011

Surat dari seorang teman

Jeritan Hatiku
oleh Aryo Andreas
pada 16 Januari 2011 jam 17:33

Berapa banyak hartamu untuk membeli sebuah kesabaranku?
Rasanya hatiku benar-benar hancur dibuatnya menderita.
Segala upaya ku kerahkan untuk bisa membahagiakanmu
Tapi sepertinya tak ada balasan dari dirimu

Mungkin bila tiba waktunya, aku tidak akan pernah peduli lagi padanya
Akan kubiarkan menangis sejadi-jadinya dibawah mata kaki-ku
Ah apa aku tega demikian? Rasanya tidak akan tega, hanya bayangan saja
Aku tak pernah mau memperpanjang masalah, mungkin jalanku harus seperti ini

Cincin itu masih tetap tersimpan, rasanya ingin kubuang atau ku jual
Buat apa, toh dia tak akan pernah tau betapa aku mencintainya
Lebih baik kuberikan pada wanita lain, yang tidak aku cintai???
Wanita yang jauh dari harapanku, wanita yang tidak pernah terlintas di benak



Dahulu...10 tahun yang lalu
Ia datang tiba-tiba, dengan segala ocehannya yang lugu dan kadang mengesalkan
Tapi,aku sangat sayang kepadanya.
Cintaku tulus, lembut seperti embun di pagi hari
Ia cantik dan lucu, kepolosannya kadang membuatku malu pada diriku sendiri

suatu ketika...
Aku sematkan cincin platina bertahta berlian di jari manisnya

Aku tak perduli... Ia tak pernah tau, untuk siapa cincin itu sebenarnya berlabuh
hatinya bimbang dan ragu

Tapi pasti ia tahu untuk siapa hatiku berlabuh, padahal aku tahu hatinya diisi pria lain

Aku dan ia mengikat hubungan hanya karena sesuatu

Wanita cantik dan lucu itu tahu, aku pria yang tak tahu diri barangkali
Sering membentak wanita cantik dan lucu itu hanya karena kesalahan kecil

sering Ku lihat ia terpengkur di sofa rumah, letih wajahnya manis sekali

Sebulan, dua bulan, tiga bulan hingga setahun, ia kini membuatku tergila-gila

Aku jadi posesif, posesif tak beralasan. Ia sering kabur bila aku sudah menjadi ‘gila’

Tapi aku tak pernah katakan padanya aku jatuh cinta padanya
Tapi ia tetap seperti dulu, di balik kemarahannya karena sikapku, ia tetap manis

Suatu hari saat cintaku membuncah-buncah, wanita itu datang ke hadapanku
Terisak-isak karena pria yang ia cintai jatuh cinta pada wanita yang lain
Ia merajuk di pundakku, sedikit mabuk kepayang akibat minuman keras dan cinta
Aku tak tega, bingung mengapa ia kembali padaku saat seperti ini?

Wanita itu, membuatku bingung, memang masih ada nafas cinta di hatiku untuknya

Ini peluang ujarku, cinta itu tak pernah salah. Tapi peluang itu yang membuatku belingsatan

Ah peluang brengsek, mengapa terjadi saat ini. Bagaimana menyikapi peluang itu?

Wanita itu kembali lagi mengisi hari-hariku

Tapi.....

Berulangkali ia pergi tanpa izinku, aku jadi kebingungan dengan apa yang terjadi

Hingga akhirnya aku memutuskan pergi menyebrangi pulau lain berikhtiar pada Tuhan

Semua orang mencariku, aku tak peduli yang penting sepulangnya keputusanku bulat

suatu ketika
Malam itu, aku bermimpi, si cantik dan lucu seolah hanya tinggal nisan belaka

Aku terbangun, seperti baru tersambar petir, segera ku kemasi barang-barangku.

Pulang dengan perasaan tak karuan, ada apa dengan dirinya......

Aku tak peduli dengan semua hal kecuali ingin melihatnya hidup-hidup



Ku buka rumah itu, tak terkunci, di dalamnya hanya ada ia seorang sebatang kara.
sambil menangis tersedu-sedu...hatinya hancur lebur karena luka akan cinta pada pria yang hanya mempermainkannya

badannya kurus seperti tak terurus.....
terdiam dia duduk di rumahnya
Rumah yang menjadi harta satu-satunya setelah ditinggal kedua orang tuanya.

Kulihat ia duduk melamun di teras dengan gelas berisi air putih di hadapannya

Ia tak mendengarku masuk ke dalam rumah, rumah itu tetap bersih seperti biasa

Ia membalikkan badannya, terkejut menatap wajahku yang sedikit tak terurus.

Ia bingung, tak tahu harus berkata apa, tak lama senyumnya mengembang

“Dari mana saja kamu, tak ada kabar? aku masak tadi, kelihatannya kamu lapar”

Ia berjalan meninggalkanku, mematung sendiri. Ah betapa tulusnya ia.

Aku mengikutinya, lalu duduk di ruang makan. “ayo makan, ini enak kok”

Aku tersenyum, ia tersenyum. Betapa lega hatiku mendapatkan dirinya baik-baik saja

“aku tahu, kamu bingung. Sekarang aku serahkan semuanya padamu” ujarnya seutas senyum kulihat mengembang diwajah ayunya

Aku membelalak, tak menyangka ia begitu tenang menyampaikan kegundahannya,bercerita dari satu masalah kemasalah yang lain...ingin kurengkuh tapi aku tak kuasa

aku melepas cincinku yang dulu pernah ada dijari manisku, ikatan cinta yang suci dariku,kuserahkan padanya

“ini, pada siapa cincin ini berlabuh hanya kamu yang berhak menyematkannya”ujarku

Nyaris saja dia tersedak masakannya, dia berhenti mengunyah

“Simpan saja, itu hanya untukmu seorang. Selamanya hanya untukmu,walaupun aku tak bisa sematkan itu dijari manismu” ujarku

Ia seolah tak percaya, sampai ku memeluk dirinya dan menangis

Aku minta maaf padanya, menyesali apa yang telah terjadi kenapa aku tak ada kala dia terluka batinnya

Ia tersenyum, “tak apa, aku sudah tahu jawabannya. Aku tak bisa seperti ini”

Lalu ia pergi ke luar rumah itu. Entah kemana, aku harap ia baik-baik saja.


“Kamu tidak akan pernah tahu, seberapa besar cintamu hingga lelaki itu meninggalkanmu,tapi aku tetap ingin mencintaimu selamanya” ujarku lirih

lalu ia pergi menghilang dari hadapanku.

Readmore...

Tidak ada komentar: